Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Cara Untuk Bermaksiat


Seorang laki-laki menghadap Ibrahim bin Adham. Beliau termasuk salah satu dokter hati. Lelaki tersebut berkata kepadanya, “Sungguh, saya telah menjerumuskan diri saya dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, tolong berikan saya resep untuk mencegahnya.” Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, “Jika engkau mampu melakukan lima hal, engkau tidak akan menjadi ahli maksiat.” Lelaki tersebut berkata – Dia sangat penasaran untuk mendengarkan nasihatnya, “Tolong ungkapkan apa yang ada di benak Anda wahai Ibrahim bin Adham!”
Ibrahim bin Adham berkata,
“Pertama, ketika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka janganlah engkau makan sedikit pun dari rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Lelaki tersebut heran kemudian dia bertanya, “bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim. Padahal semua rezeki berasal dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Ibrahim berkata, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau makan rezeki-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang kedua, wahai Ibrahim!”
“Kedua, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.” Lelaki tersebut terheran-heran melebihi yang pertama, kemudian dia berkata, “Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim? Padahal setiap bagian bumi ini milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Ibrahim menjelaskan kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau tinggal di bumi-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang ketiga, wahai Ibrahim!”
Ibrahim bin Adham berkata,
“Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka carilah tempat di  mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dapat melihatmu, lalu berbuatlah maksiat di tempat itu!” Lelaki tersebut berkata, “Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim? Padahal Allah Maha Mengetahui hal-hal rahasia (Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi). Dia dapat mendengar merayapnya semut pada batu besar yang keras di malam yang gelap.” Ibrahim menjelaskan kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang keempat, wahai Ibrahim!”
Ibrahim bin Adham berkata,
“Keempat, jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, maka katakanlh padanya, ‘Tundalah kematianku sampai waktu tertentu!’ Lelaki tersebut bertanya, “Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-Araf: 34)
Ibrahim bin Adham menjeaskan kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, lantas mengapa engkau masih mengharap keselamatan?” Dia menjawab, “Iya. Lalu apa yang kelima wahai Ibrahim?”
Ibrahim bin Adham berkata,
“Kelima, apabila malaikat Zabaniyah – mereka adalah malaikat penjaga – mendatangimu untuk menyeretmu ke neraka Jahannam, maka janganlah engkau ikut mereka. Belum sampai lelaki ini mendengarkan nasihat yang kelima, dia berkata sambil menangis, “Cukup, Ibrahim. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya. Akhirnya dia senantiasa beribadah sampai meninggal dunia.”

Source :  http://muslimahzone.com/cara-untuk-bermaksiat/

Jumat, 30 Agustus 2013

Wasiat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Tentang Wanita


Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia mencipta-kan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,....” [Ar-Ruum/30: 21]

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan isteri sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah yang harus dijaga. Ia adalah salah satu nikmat-Nya yang wajib disyukuri, sebagaimana yang diperintahkan-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk mengikuti perintah-perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dalam firman-Nya:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
“... Taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya)...” [An-Nisaa’/4: 59]

Dan di antara perintah yang sangat beliau tegaskan dan sering beliau sebut-sebut ialah hak wanita yang lemah ini. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengetahui haknya atas kita dan menunai-kan hak tersebut dalam bentuknya yang paling sempurna.

Saudaraku yang tercinta, dengarlah akan hak-hak isterimu, sehingga engkau bersyukur kepada Allah atas nikmat ini serta meng-ikuti perintah-perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan hal itu, juga agar engkau tidak menzhaliminya, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat.

1. WASIAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TENTANG WANITA
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِيْ جَارَهُ، وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْئٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا.

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada wanita."[1]

Al-Bukhari meriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَـا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا، وَفِيْهَا عِوَجٌ.

"Wanita itu seperti tulang rusuk; jika engkau luruskan (tegak-kan), engkau mematahkannya, dan jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan di dalamnya ada kebengkokan."[2]

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallah anhu, ia mengatakan: "Kami takut berbicara dan bersenda gurau dengan wanita-wanita (isteri) kami pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir akan turun suatu ayat kepada kami. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal, kami pun bercakap-cakap dan bersenda gurau."[3]

Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنِّيْ أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ حَقَّ الضَّعِيْفَيْنِ: اَلْيَتِيْمِ وَالْمَرْأَةِ.

"Sesungguhnya aku mengkhawatirkan hak dua orang yang lemah atas kalian: anak yatim dan wanita."[4]

Al-Hakim meriwayatkan dari Samurah Radhiyallahua anhu secara marfu’:

خُلِقَتِ الْمَرْأَةُ مِـنْ ضِلَعٍ، فَإِنْ تُقِمْهَا تُكْسِرْهَـا فَدَارِهَا، تَعِشْ بِهَا.

"Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk; jika kamu meluruskannya, maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya."[5]

Al-Hafizh berkata dalam al-Fat-h: “Hadits ini berisi anjuran agar berlemah lembut untuk melunakkan hati. Hadits ini pun berisi cara memimpin wanita, yaitu dengan cara memaafkan mereka dan bersabar terhadap kebengkokan mereka. Dan siapa yang ingin meluruskan mereka, berarti mengambil manfaat (adanya) mereka. Karena setiap manusia membutuhkan wanita; ia merasa tenteram kepadanya dan menjadikannya sebagai penopang kehidupannya. Seolah-olah beliau mengatakan: ‘Mengambil manfaat mereka tidak akan tercapai kecuali dengan bersabar terhadapnya.’”[6]

Bahkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan terhadap mereka di akhir kehidupannya, dan hal itu pada haji Wada’.

Sebagaimana at-Tirmidzi meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَـاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ -أَيْ أسِيْرَاتٍ- لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ، إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَـاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَـاهْجُرُوْهُنَّ فِـي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْاهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ، أَلاَ وَحَقَّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوْا إِلَيْهِنَّ فِيْ كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ.

"Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika ia mentaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahui-lah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan mereka."[7]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Makna عَـوَانٌ (dalam hadits di atas) adalah أَسِيْرَاتٌ (tawanan). Kaum wanita diserupakan sebagai tawanan di sisi kaum pria, karena kaum pria memerintah dan berkuasa atas mereka."[8]

Dalam riwayat Muslim:

اِتَّقُوا اللهَ فِـي النِّسَـاءِ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَـانَةِ اللهِ، وَاسْـتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُـمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ.

"Bertakwalah kepada Allah dalam perihal wanita. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan dihalalkan atas kalian kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Maka hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf."[9]

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ.

‘Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlak darinya, maka ia menyukai yang lainnya.’”[10]

2. DIHARAMKAN MENYEBARKAN RAHASIANYA.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia menuturkan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، اَلرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِيْ إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

‘Manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang 'mendatangi' isterinya, dan wanita itu pun 'mendatangi' suaminya, kemudian ia (laki-laki itu) menyebarkan rahasia isterinya.’”[11]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini berisi pengharaman laki-laki menyebarkan apa yang berlangsung antara dirinya dengan isterinya, misalnya tentang hubungan suami isteri dan menyifati hal itu secara detil serta apa yang berlangsung pada diri wanita, baik ucapan, perbuatan maupun sejenisnya pada saat berhubungan. Adapun sekedar menyebut hubungan badan, jika tidak ada faidah di dalamnya dan tidak dibutuhkan, maka hal itu makruh, karena bertentangan dengan etika yang baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia berkata dengan perkataan yang baik atau diam.”[12]

3. DI ANTARA HAKNYA IALAH, ENGKAU MENGIZINKANNYA KELUAR UNTUK KEBUTUHANNYA YANG MENDESAK.
Kaum wanita pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cadar, dan mereka keluar untuk keperluan mereka, seperti pergi untuk buang hajat sebelum WC dibuat di dalam rumah, atau pergi untuk keperluan yang mendesak. Tidak sebagaimana kaum wanita pada hari ini, mereka keluar, baik untuk suatu keperluan maupun tidak, dengan bersolek, berhias dan memakai parfum.

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan: “Saudah binti Zam’ah keluar pada suatu malam, lalu ‘Umar melihat-nya dan mengenalinya seraya mengatakan: ‘Wahai Saudah, demi Allah, engkau tidak dapat menyembunyikan dirimu dariku.’ Maka ia pun kembali kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyebutkan hal itu kepada beliau, pada saat itu beliau berada di rumahku sedang makan malam dan tangan beliau sedang memegang tulang yang masih terdapat sisa daging padanya. Kemudian wahyu diturunkan kepada beliau, lalu (hidangan) diangkat dari beliau, seraya bersabda:

قَدْ أَذِنَ اللهُ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ.

‘Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kepada kalian keluar untuk keperluan (hajat) kalian.’

Hisyam bin ‘Urwah berkata: ‘Maksudnya adalah buang hajat, yaitu buang air besar.’”[13]

Dalam riwayat Muslim: ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: "Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang hijab."

Yang menyebabkan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu melakukan hal itu karena dia menginginkan turunnya wahyu mengenai hijab. Dan ternyata, turunnya ayat hijab menyelarasi pendapat ‘Umar bin al-Khaththab.

Tetapi, keluarnya wanita dari rumahnya harus disertai beberapa syarat, yaitu:

a. Komitmen dengan hijab syar’i yang dapat menutupi tubuh wanita dan wajahnya, serta tidak berdandan dengan pakaian yang berwarna-warni, dan (hendaknya) memakai pakaian yang longgar.

b. Tidak berbaur dengan kaum pria.

c. Tidak memakai parfum. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa jika wanita melakukan hal itu, berarti dia adalah seorang yang demikian dan demikian, maksudnya pezina.

Jika wanita tidak komitmen dengan hal itu, dan keluarnya itu untuk kepentingan yang mendesak, maka dia tidak boleh keluar dari rumahnya tanpa memenuhi syarat yang kami sebutkan tadi.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penerjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir - Bogor]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 5185) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 60) kitab ar-Radhaa’, (II/1091).
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 5184) kitab an-Nikaah, Muslim, no. 1468 kitab ar-Radhaa’.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 5187) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah, (no. 1632) kitab Maa Jaa-a fil Janaa-iz, Ahmad (no. 5262).
[4]. HR. Ibnu Majah (no. 7678) kitab al-Adab, Ahmad (no. 9374), Ibnu Hibban, (no. 1266), al-Hakim (I/63) dan ia menilainya sebagai hadits shahih sesuai syarat Muslim. Disetujui oleh adz-Dzahabi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 1015).
[5]. HR. Al-Hakim (IV/174), dan ia menilainya shahih sesuai syarat Muslim, serta disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Hibban (no. 1308), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (III/163.
[6]. Al-Fat-h (IX/163).
[7]. HR. At-Tirmidzi (no. 1163), kitab ar-Radhaa’, dan ia menilainya sebagai hadits hasan shahih, Ibnu Majah (no. 185) kitab an-Nikaah, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Ibni Majah (no. 5101) dan al-Irwaa’ (no. 1997).
[8]. Lihat, Aadaabuz Zifaaf, Syaikh al-Albani, hal. 270.
[9]. HR. Muslim (no. 1218) kitab al-Hajj, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[10]. HR. Muslim (no. 1469) kitab ar-Ridhaa’, Ahmad (no. 8163).
[11]. HR. Muslim (no. 1437) kitab an-Nikaah, Abu Dawud (no. 4871) kitab al-Adab.
[12]. HR. Al-Bukhari (no. 6018) kitab al-Adab, Muslim (no. 47) kitab al-Iimaan, at-Tirmidzi (no. 2500) kitab Shifatul Qiyaamah war Raqaa-iq wal Waraa’, Abi Dawud (no. 5154) kitab al-Adab, Ibnu Majah (no. 3971). Dan lihat, Shahiih Muslim bisy Syarhin Nawawi (V/262).
[13]. HR. Al-Bukhari (no. 5237) kitab an-Nikaah, dan (no. 146) kitab al-Wudhuu’, Muslim (no. 2170) kitab as-Salaam.

source : http://almanhaj.or.id/content/2140/slash/0/wasiat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tentang-wanita/

Rabu, 25 Mei 2011

Tak Perlu Malu Menyampaikan Kebenaran

Alkisah, para pembesar kaum Quraisy menawari seorang laki-laki berbagai hadiah yang sangat menggiurkan; Kedudukkan mentereng, wanita-wanita tercantik seantero jazirah Arab, hingga harta yang melimpah ruah.
Semua tawaran tersebut bukanlah hadiah yang bisa dipandang sebelah mata. Sekalipun
demikian, laki-laki tersebut tak bergeser pada sikap teguhnya. Dia yakin, bahwa kegiatan dakwah yang dilakukannya, merupakan perkara yang sangat mulia, dan jauh lebih berharga dari hadiah-hadiah yang mereka iming-imingkan.
Kemuliaan baginya, sama sekali tidak terletak pada tingginya jabatan, atau melimpahnya harta benda. Tapi, risalah yang dia bawalah, Islam, yang akan menyebabkannya dan pemeluknya mulia. “Al-Islamu Ya’lu wa laa yu’laa ‘alaihi.” (Islam itu tinggi/mulia. Dan tidak ada yang lebih tinggi/mulia dari padanya).
Merasa gagal dengan cara lunak, para pembesar itu mulai mencegahnya dengan cara-cara kasar, bahkan terkadang sangat tidak berprikemanusiaan. Sekali lagi, nyali laki-laki itu tak pernah ciut. Dia tetap beristiqomah dalam menyi’arkan risalah yang dia bawa. Bahkan, dengan tegas beliau berujar, “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku tinggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya”.
Pria itu, tak lain, Muhammad Rosulullah. Pria yang telah membuah gundah gulana para pemembesar kafir Quraisy.
Diri sendiri
Islam adalah agama dakwah. Artinya ia agama yang senantiasa mengajak/menyerukan kepada manusia menuju jalan kebenaran, jalan Allah dan Rosul-Nya.
Seperti apa yang dikemukan oleh Syeikh Ali Mahfudz, seorang ulama dari Mesir, dalam kitabnya ‘Hidayat Al-Mursyidin’,   bahwa dakwah adalah sarana bagi manusia untuk melakukan kebajikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, agar mereka meperoleh kebahagian hidup, di dunia dan di akhirat kelak.
Dalam al-Quran dan al-Hadits, terdapat banyak sekali dalil yang memerintahkan wajibnya berdakwah. Salah satunya, firman Allah, “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikkan/ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Imron 104).
Ketika kemaksiatan dilakukan orang tanpa malu, bahkan sudah di jalan-jalan dan di sekitar kita, apa jadinya tanpa dakwah dan orang-orang yang berani menyampaikan kebenaran?
Di saat banyak orang bangga berselingkuh dan berbuat kemungkaran, apa jadinya tanpa ada orang yang berani mengingatkan?
Dalam sebuah hadits, Rosulullah, bahkan menyerukan umatnya untuk senantiasa mendakwahkan Islam, sekalipun mereka hanya bermodalkan satu ayat dari firman-firman-Nya. Sabda beliau: “Ballighu ‘anni walau ayyah.” (Sampaikan apa saja dariku sekalipun hanya satu ayat).
Hadits di atas mengandung arti, agar kaum Muslimin memiliki ghirah (semamngat) tinggi dalam menyebarluaskan agama Islam ini. Hatta, sekalipun mereka hanya bermodalkan satu ayat saja, mereka harus tetap memiliki spirit yang tinggi. Apalagi, kalau lebih dari itu, pastinya.
Thoriq bin Ziyad, panglima perang kaum muslimin di Andalusia pernah mengatakan, “Sesungguhnya kemajuan dan kemunduran Islam, itu tergantung pada usaha setiap individu umat Islam itu sendiri, di dalam menyebarkannya”. (Abdul Latip Talip, ‘Toriq bin Ziyad Sang Penakluk Andalusia’: 275).
Ketika kaum muslimin mulai menjauhi dunia dakwah, maka secara tidak langsung mereka telah terlibat dalam melebur kemuliaan agama hanif ini, serta telah ikut serta melemahkan keeksistensiannya. Begitu pula sebaliknya. Ketika syi’ar Islam mereka perjuangkan mati-matian, hingga benar-benar menerangi permukaan bumi,  berarti mereka telah turut andil dalam membangun kemuliaan agama ini, dan para pemeluknya. Kedepannya, kaum mukminin akan diperhitungkan keberadaannya, akan disegani, dan tidak akan pernah dipandang sebelah mata, baik oleh kawan maupun lawan.
Sejarah telah membuktikan, betapa kewibawaan umat Islam melambung tinggi, ketika dakwah Islam menembus batas Afrika, Mesir, Yaman, Palestina, Eropa,  Andalusia dan sekitarnya. Mereka mampu mewarnai dunia dari segala sisi; politik, ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, pertanian, dan lain sebagainya.
Mereka benar-benar menjadi refrensi/percontohan kehidupan masyarakat yang makmur, maju, lagi relegius, bagi bangsa-bangsa lain, pada saat itu. Bahkan, kebangkitan Eropa saat ini, pun tidak lepas dari peran kaum muslimin dahulu, di masa kejayaan Islam.
Islam adalah agama yang mulia. Tak sedikit orang yang belum merasakan nikmatnya agama ini. Karena itu, tugas kitalah untuk mendakwahkannya. Dalam al-Quran Allah berfirman: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang menyerukan kepada kebaikkan (ma’ruf) dan mencegah yang munkar.” (Al-Imran 110)
Sudah tentu, mengabarkan kebaikan dan kemuliaan tak ada yang ‘gratis’. Ibarat dua keping mata uang, angtara kebaikan, selalu ada jalan terjal. Keduanya seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berjalan beriringan.
Di bagian belahan bumi manapun kita berdakwah, maka di situ pasti ada tantangan yang harus kita hadapi. Bahkan di dalam lingkungan keluarga sendiripun akan terjadi. Di manapun, selalu ada kaum penolak kebaikan dan dakwah.
Firman Allah, “Begitulah bagi setiap Nabi, telah kami adakan musuh dari orang-orang berdosa. Tetapi cukuplah Tuhanmu pemberi petunjuk dan penolong.” (Al-Furqan: 31).
Dalam perjalanan dakwah, Nabi pernah diusir dari tempat kelahirannya. Beliua menerima cemoohan, hinaan baik berupa perkataan, maupun tindakkan. Pernah suatu hari, ketika Rosulullah berdakwah di Thoif, beliau diusir dan dilempari batu dan kotoran oleh anak-nak kecil, dan budak-budak. Sampai-sampai, Malaikat penjaga gunung merasa  geregetan, ingin menimpakan gunung di tengah-tengah penduduk Thoif. Tetapi, Rosulullah mencegahnya. Beliau justru mendo’akan agar warga Thoif diberikan petunjuk oleh Allah.
Kini, hal serupa tengah dialami kaum Muslimin. Dengan stigma terorisme, umat Islam difitnah di mana-mana. Hanya karena ada pakaian gamis, surban, jenggot dan cadar, seolah sudah dicap pembuat rusuh.
Rasulullah adalan contoh manusia yang luar biasa dalam mengembangkan dakwah dan mengabarkan kebenaran agama Islam. Tak sedikit orang kafir Quraisy menghinanya,  menganggapnya sebagai orang gila, tukang sihir, tukang tenung, penya’ir, dan sebagainya. Bagaimanapun buruk julukkan pada beliau, Nabi tetap berdakwah sambil terus mendoakan. Atas usaha luar biasa Nabi, terbitlah fajar kemenangan di jazirah Arab dan sekitarnya yang mengangibatkan tenggelamnya kejahiliayahan pada saat itu.
Orang-orang berbondong-bondong masuk Islam hingga digambarkan Allah dalam Al-Quran dalam surat An-Nasr: 1-3, yang berbunyi; “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah (2) Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Ia Maha Penerima taubat (3).”  
Begitulah buah atas  kesabaran dalam dakwah. Tak ada salahnya, jika kita memulai dari diri kita sendiri. Tetaplah bersemangat dalam berdakwah dan mengabarkan kemuliaan Islam ini. Di mana saja dan kapan saja. Di kampung, di kantor atau dalam rumah tangga kita sendiri. Mudah-mudahan, buah ‘kemenangan” yang telah dijanjikan Allah segera datang.


Alkisah, para pembesar kaum Quraisy menawari seorang laki-laki berbagai hadiah yang sangat menggiurkan; Kedudukkan mentereng, wanita-wanita tercantik seantero jazirah Arab, hingga harta yang melimpah ruah.
Semua tawaran tersebut bukanlah hadiah yang bisa dipandang sebelah mata. Sekalipun
demikian, laki-laki tersebut tak bergeser pada sikap teguhnya. Dia yakin, bahwa kegiatan dakwah yang dilakukannya, merupakan perkara yang sangat mulia, dan jauh lebih berharga dari hadiah-hadiah yang mereka iming-imingkan.
Kemuliaan baginya, sama sekali tidak terletak pada tingginya jabatan, atau melimpahnya harta benda. Tapi, risalah yang dia bawalah, Islam, yang akan menyebabkannya dan pemeluknya mulia. “Al-Islamu Ya’lu wa laa yu’laa ‘alaihi.” (Islam itu tinggi/mulia. Dan tidak ada yang lebih tinggi/mulia dari padanya).
Merasa gagal dengan cara lunak, para pembesar itu mulai mencegahnya dengan cara-cara kasar, bahkan terkadang sangat tidak berprikemanusiaan. Sekali lagi, nyali laki-laki itu tak pernah ciut. Dia tetap beristiqomah dalam menyi’arkan risalah yang dia bawa. Bahkan, dengan tegas beliau berujar, “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku tinggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya”.
Pria itu, tak lain, Muhammad Rosulullah. Pria yang telah membuah gundah gulana para pemembesar kafir Quraisy.
Diri sendiri
Islam adalah agama dakwah. Artinya ia agama yang senantiasa mengajak/menyerukan kepada manusia menuju jalan kebenaran, jalan Allah dan Rosul-Nya.
Seperti apa yang dikemukan oleh Syeikh Ali Mahfudz, seorang ulama dari Mesir, dalam kitabnya ‘Hidayat Al-Mursyidin’,   bahwa dakwah adalah sarana bagi manusia untuk melakukan kebajikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, agar mereka meperoleh kebahagian hidup, di dunia dan di akhirat kelak.
Dalam al-Quran dan al-Hadits, terdapat banyak sekali dalil yang memerintahkan wajibnya berdakwah. Salah satunya, firman Allah, “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikkan/ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Imron 104).
Ketika kemaksiatan dilakukan orang tanpa malu, bahkan sudah di jalan-jalan dan di sekitar kita, apa jadinya tanpa dakwah dan orang-orang yang berani menyampaikan kebenaran?
Di saat banyak orang bangga berselingkuh dan berbuat kemungkaran, apa jadinya tanpa ada orang yang berani mengingatkan?
Dalam sebuah hadits, Rosulullah, bahkan menyerukan umatnya untuk senantiasa mendakwahkan Islam, sekalipun mereka hanya bermodalkan satu ayat dari firman-firman-Nya. Sabda beliau: “Ballighu ‘anni walau ayyah.” (Sampaikan apa saja dariku sekalipun hanya satu ayat).
Hadits di atas mengandung arti, agar kaum Muslimin memiliki ghirah (semamngat) tinggi dalam menyebarluaskan agama Islam ini. Hatta, sekalipun mereka hanya bermodalkan satu ayat saja, mereka harus tetap memiliki spirit yang tinggi. Apalagi, kalau lebih dari itu, pastinya.
Thoriq bin Ziyad, panglima perang kaum muslimin di Andalusia pernah mengatakan, “Sesungguhnya kemajuan dan kemunduran Islam, itu tergantung pada usaha setiap individu umat Islam itu sendiri, di dalam menyebarkannya”. (Abdul Latip Talip, ‘Toriq bin Ziyad Sang Penakluk Andalusia’: 275).
Ketika kaum muslimin mulai menjauhi dunia dakwah, maka secara tidak langsung mereka telah terlibat dalam melebur kemuliaan agama hanif ini, serta telah ikut serta melemahkan keeksistensiannya. Begitu pula sebaliknya. Ketika syi’ar Islam mereka perjuangkan mati-matian, hingga benar-benar menerangi permukaan bumi,  berarti mereka telah turut andil dalam membangun kemuliaan agama ini, dan para pemeluknya. Kedepannya, kaum mukminin akan diperhitungkan keberadaannya, akan disegani, dan tidak akan pernah dipandang sebelah mata, baik oleh kawan maupun lawan.
Sejarah telah membuktikan, betapa kewibawaan umat Islam melambung tinggi, ketika dakwah Islam menembus batas Afrika, Mesir, Yaman, Palestina, Eropa,  Andalusia dan sekitarnya. Mereka mampu mewarnai dunia dari segala sisi; politik, ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, pertanian, dan lain sebagainya.
Mereka benar-benar menjadi refrensi/percontohan kehidupan masyarakat yang makmur, maju, lagi relegius, bagi bangsa-bangsa lain, pada saat itu. Bahkan, kebangkitan Eropa saat ini, pun tidak lepas dari peran kaum muslimin dahulu, di masa kejayaan Islam.
Islam adalah agama yang mulia. Tak sedikit orang yang belum merasakan nikmatnya agama ini. Karena itu, tugas kitalah untuk mendakwahkannya. Dalam al-Quran Allah berfirman: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang menyerukan kepada kebaikkan (ma’ruf) dan mencegah yang munkar.” (Al-Imran 110)
Sudah tentu, mengabarkan kebaikan dan kemuliaan tak ada yang ‘gratis’. Ibarat dua keping mata uang, angtara kebaikan, selalu ada jalan terjal. Keduanya seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berjalan beriringan.
Di bagian belahan bumi manapun kita berdakwah, maka di situ pasti ada tantangan yang harus kita hadapi. Bahkan di dalam lingkungan keluarga sendiripun akan terjadi. Di manapun, selalu ada kaum penolak kebaikan dan dakwah.
Firman Allah, “Begitulah bagi setiap Nabi, telah kami adakan musuh dari orang-orang berdosa. Tetapi cukuplah Tuhanmu pemberi petunjuk dan penolong.” (Al-Furqan: 31).
Dalam perjalanan dakwah, Nabi pernah diusir dari tempat kelahirannya. Beliua menerima cemoohan, hinaan baik berupa perkataan, maupun tindakkan. Pernah suatu hari, ketika Rosulullah berdakwah di Thoif, beliau diusir dan dilempari batu dan kotoran oleh anak-nak kecil, dan budak-budak. Sampai-sampai, Malaikat penjaga gunung merasa  geregetan, ingin menimpakan gunung di tengah-tengah penduduk Thoif. Tetapi, Rosulullah mencegahnya. Beliau justru mendo’akan agar warga Thoif diberikan petunjuk oleh Allah.
Kini, hal serupa tengah dialami kaum Muslimin. Dengan stigma terorisme, umat Islam difitnah di mana-mana. Hanya karena ada pakaian gamis, surban, jenggot dan cadar, seolah sudah dicap pembuat rusuh.
Rasulullah adalan contoh manusia yang luar biasa dalam mengembangkan dakwah dan mengabarkan kebenaran agama Islam. Tak sedikit orang kafir Quraisy menghinanya,  menganggapnya sebagai orang gila, tukang sihir, tukang tenung, penya’ir, dan sebagainya. Bagaimanapun buruk julukkan pada beliau, Nabi tetap berdakwah sambil terus mendoakan. Atas usaha luar biasa Nabi, terbitlah fajar kemenangan di jazirah Arab dan sekitarnya yang mengangibatkan tenggelamnya kejahiliayahan pada saat itu.
Orang-orang berbondong-bondong masuk Islam hingga digambarkan Allah dalam Al-Quran dalam surat An-Nasr: 1-3, yang berbunyi; “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah (2) Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Ia Maha Penerima taubat (3).”  
Begitulah buah atas  kesabaran dalam dakwah. Tak ada salahnya, jika kita memulai dari diri kita sendiri. Tetaplah bersemangat dalam berdakwah dan mengabarkan kemuliaan Islam ini. Di mana saja dan kapan saja. Di kampung, di kantor atau dalam rumah tangga kita sendiri. Mudah-mudahan, buah ‘kemenangan” yang telah dijanjikan Allah segera datang.




Source : http://www.hidayatullah.com/read/15646/02/03/2011/tak-perlu-malu-menyampaikan-kebenaran-.html

Damaikan Pertikaian Antara Saudara Muslim mu

Ketahuilah bahwa di antara perkara yang sangat diperhatikan oleh agama Islam adalah terbentuknya masyarakat yang solid dengan menciptakan perdamaian antara mereka yang bertikai. Setiap individu berusaha secara bersama dalam menyatukan kembali sendi-sendi masyarakat tercerai berai, memperbaiki bagian yang terpecah dan hasil yang ingin dituju adalah terbentuknya masyarakat yang baik dan tegaknya jama’ah dalam kesatuan, saling menguatkan dalam menjaga hak-hak pribadi, tolong menolong, dan saling membantu dalam mewujudkan hak-hak bersama dengan mengembangkan sikap berani berkoraban, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, menjaga kehormatan dan membela kemaslahatan masyarakat.
Allah Subhanahuwata’ala dalam al-Quran berfirman;

قال الله تعالى: ﴿لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. Al-Nisa’: 114).
Allah juga telah menjanjikan pahala yang paling baik dan besar bagi setiap orang yang berupaya memperbaiki pertiakain yang terjadi antara sesama manusia dalam segala urusan mereka, guna menjaga persatuan jama’ah kaum muslimin.

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah kalian mau jika aku beritahukan kepada kalian tentang perbuatan yang paling baik dari puasa, shalat dan shadaqah?. Mereka menjawab: Mau wahai Rasulullah?. Beliau menjawab, “Yaitu  mendamaikan pertikaian antara sesama muslim, sesungguhnya rusaknya hubungan antara sesama muslim adalah sebagai pemangkas, aku tidak mengatakan memangkas rambut namun dia bisa memangkas agama.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi).
Menghancurkan kekuatan
Banyak kaum Muslim tak menyadari, bahwa pertikaian, memutuskan tali silaturrahmi dan persaudaraan  --padahal Allah memerintahkan untuk tetap menyambungnya—hanya akan menghancurkan kekuatan umat dan menciptakan kerusakan di muka bumi ini.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh- musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron: 103).
Dalam surat lain, Allah Subhanhu Wa Ta’ala juga berfirman:
“…dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).
Seandainya penyakit seperti ini bisa ditanggulangi sejak dini dan dituntaskan dari sumbernya niscaya kekuatan kebaikan akan mengalahkan arus keburukan, dan jama’ah akan selamat dari segala perpecahan .
Oleh karena itu, umat Islam haruslah kembali ke niat awal dalam agama. Janganlah terpedaya  oleh kehidupan dunia ini dan janganlah terpedaya oleh apapun. Seorang Muslim yang baik, haruslah memperhatikan kemaslahatan pribadinya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan berbuat untuk kemaslahatan setelah kematiannya dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan dengan angan-angan yang banyak”. (HR. Turmudzi).
Rasulullah juga berpesan;
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 9-10).
Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian tentang shadaqah yang dicintai oleh Allah dan RasulNya?. Yaitu engkau mendamaikan antara manusia jika mereka saling marah dan hubungan mereka telah rusak”.
Banyaknya ayat dan nasehat Nabi tentang ini menunjukkan jika beliau ingin umatnya kuat  dan tak suka berpecah-belah.
Untuk menjaga agar barisan Islam kuat, bahkan Islam yang sangat melarang seseorang berbuat bohong, namun dibolehkan jika dalam kondisi itu dilakukan untuk “menjinakkan hati”  dan mempersattukan barisan umat.
Sebagaimana sabna Nabi, “Bukan pembohong orang yang berbohong dalam rangka mendamaikan antara orang yang bertikai untuk menciptakan kebaikan dan berkat yang baik”. (Muttafaq Alaihi).
Marilah kita bersatu, damaikanlah yang sedang berseteru agar tubuh umat Islam kembali kuat. Karena Allah hanya menyukai barisan umat yang kuat.
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Ahaff: 4).

source : http://www.hidayatullah.com/read/16088/28/03/2011/damaikan-pertikaian-antara-saudara-muslim-mu.html

Senin, 14 Maret 2011

Nasehat untuk Saudaraku

…Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat …
Adakah alasan bagi wanita muslimah untuk tidak brjilbab?
Adakah alasan syar’i bagi mereka untuk memampang foto-foto mereka di dunia maya?
Tidakkah mereka sadar bahwa foto-foto mereka dikoleksi tangan-tangan jahil?
Banggakah mereka menanggung dosa mata-mata yang memandang?
Tidakkah mereka sadar bahwa syaitan bangga dan terbahak-bahak dengan apa yang mereka lakukan?
Maukah mereka mencium harum wewangian surga? Duh, Kasihan mereka yang mengatakan “mau”..
Rambut mereka terurai..
Leher. . .
Lengan tangan. .
Dada,.
mereka menampakkan keelokan wajah dan titik-titik pesona tubuhm di hadapan laki-laki non mahram. mereka menampakkan betis, lengan, kepala dan rambut. mereka keluar rumah dengan dandanan memikat dan mengundang fitnah.mereka pampang foto-foto di dunia maya ini terlebih dengan senyuman menggoda.
mereka memoles Senyum dan wajah-wajah mengundang fitnah. .
Apa yang mereka inginkan??
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim no. 2128, dari Abu Hurairah]
نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِيحُهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ
“..wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mendapati aromanya. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun..” [HR. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ riwayat Yahya Al Laits, no. 1624]
Sadarkah mereka bahwa lelaki-lelaki beriman tidak meridhai apa yang mereka lakoni?
Tak sadarkah mereka bahwa lelaki berhati serigala tengah mengaung bergembira dengan apa yang mereka pajang?
Untuk sholat maka diwajibkanlah wudhu terlebih dahulu. Apakah berhijab membutuhkan hati yang bersih terlebih dahulu? Justru hijab lah yang akan membersihkan hati pemiliknya maupun hati yang memandangnya. .
Tidakkah mereka sadar bahwa maut selalu mengintai?
Ingin dikatakan cantik?
Semua wanita itu cantik. Tak perlu diucapkan. Tapi baiklah akan kami katakan kepada mereka.
Engkau cantik, kawan”
Puas kah?
Gembira kah?
Riang kah?
Menyuburkan keimanan kah?
Menambah level ketakwaan kah?
Meningkatkan kapasitas keilmuan kah?
Sayangnya itu adalah ungkapan gombal yang basi nan memuakkan. Namun bisa membuat mereka terbang ke dunia hayal.
Wahai pena, . . .
Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat. Berilah pengertian bahwa salah satu definisi aurat adalah bagian-bagian yang jika tersingkap atau terbuka maka timbullah gejolak rasa malu bagi pemiliknya. Artinya ketika mereka menampakkan aurat di dunia nyata maupun maya maka mereka telah mencabik rasa malu yang ada di hati. Hancurlah sudah bangunan kemuliaan itu.
Berilah kabar gembira kepada kaum hawa bahwa surga itu lebih luas daripada langit dan bumi. Mereka harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana mereka, kami pun merasakan ujian kehidupan. Karena itu, ajaklah mereka untuk menetapi kesabaran. tentu sabar di dunia lebih ringan daripada sabar dalam menahan siksaan di neraka.
Bisikkan pula, selain Maha Pengampun, Allah jua Maha dahsyat siksaannya. Di dalam neraka, Allah memiliki pengawal-pengawal baik dari golongan malaikat maupun ular yang siap menyiksa hebat kaum-kaum yang ingkar.
Sampaikan untaian nasehat kami agar mereka mempelajari tauhid yang benar, aqidah yang shahih, belajar tentang halal dan haram dan mengetahui kewajiban-kewajiban mereka sebagai wanita mulia dalam islam. .
Sekiranya hati mereka luluh akan nasehat kami maka itulah kebaikan bagi mereka. Kami berdo’a semoga mereka dimudahkan dalam memahami dan menjalankan syariat islam yang indah dan paripurna ini. Tidaklah kami mengharap balasan atas apa yang kami atau pun mereka lakukan. Sekiranya mereka enggan nan sombong lagi angkuh maka sekali lagi kabarkanlah mereka bahwa adzab Allah amat pedih lagi dahsyat. .
Wahai jemari dan lisan kami.
Jadilah engkau saksi kelak di hadapan Allah bahwa kami telah menasehati wanita-wanita kami.
Wallahu a’lam.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Mataram_di pagi nan sejuk, sesejuk hati, ilmu dan akhlak orang-orang beriman.
Penulis: Fachrian Almer Akiera as-Samawiy
Muroja’ah: M. A. Tuasikal

Rabu, 03 November 2010

Pengertian Nasehat

Kata "nasehat" berasal dari bahasa arab, dari kata kerja "Nashaha" yang berarti "khalasha", yaitu murni serta bersih dari segala kotoran, juga bisa berarti "Khaatha", yaitu menjahit. [1]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, "Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasehati."[2]

Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata "nashaha" sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, "Dikatakan bahwa "nashaha" diambil dari "nashahtu al-'asla", apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya.

Dan dikatakan kata "nasehat" berasal dari "nashaha ar-rajulu tsaubahu" (orang itu menjahit pakaiannya), apabila dia menjahitnya, maka mereka mengumpamakan perbuatan penasehat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasehatinya dengan jalan memperbaiki pakaiannya yang robek."[3]

Arti ucapan beliau shalallahu 'alaihi wasallam "Dien itu adalah nasehat" adalah bahwa nasehat itu merupakan tiang serta tonggak dari dien ini sebagaimana sabda beliau, "Haji itu adalah Arafah," [4]

maksudnya wuquf di Arafah merupakan tiang serta rukun dari ibadah haji.

Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi rahimahullah (wafat tahun 394H) berkata dalam kitabnya Ta'dzimu Qadri As-Shalat mengenai arti nasehat kepada Allah.

"Sebagian ahli ilmu berkata: Penjelasan arti nasehat secara lengkap adalah perhatian hati terhadap yang dinasehati siapa pun dia, dan nasehat tersebut hukumnya ada dua, yang pertama wajib dan yang kedua sunnah. Maka nasehat yang wajib kepada Allah, yaitu perhatian yang sangat dari penasehat dengan cara mengikuti apa-apa yang Allah cintai, berupa pelaksanaan kewajiban dan dengan menjauhi apa-apa yang Allah haramkan. Sedangkan nasehat yang sunnah adalah dengan mendahulukan perbuatan yang dicintai Allah dari pada perbuatan yang dicintai oleh dirinya sendiri, yang demikian itu dalam dua perkara yang berbenturan. Yang pertama untuk kepentingan dirinya sendiri dan yang lain untuk Rabbnya, maka dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Rabbnya terlebih dahulu dan mengakhirkan apa-apa yang untuk dirinya sendiri, maka ini adalah penjelasan nasehat kepada Allah secara global, baik yang wajib maupun yang sunnah. Adapun perinciannya akan kami sebutkan sebagiannya agar bisa dipahami dengan lebih jelas. Maka nasehat yang wajib kepada Allah adalah menjauhi laranganNya, dan melaksanakan perintahNya dengan seluruh anggota badannya apa-apa yang mampu ia lakukan, apabila ia tidak mampu melaksanakan kewajibannya karena suatu alasan tertentu seperti sakit atau terhalang dengan sesuatu atau sebab-sebab lainnya, maka ia tetap berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban tersebut apabila penghalang tadi telah hilang.

Allah Subhana wa Ta'ala berfirman.

"Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka menasehati kepada Allah dan RasulNya (cinta kepada Allah dan RasulNya). Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [At-Taubah : 91]

Maka Allah menamakan mereka sebagai "Al-Muhsinin" (orang-orang yang berbuat baik) karena perbuatan mereka, berupa nasehat kepada Allah dengan hati-hati mereka yang ikhlas, ketika mereka terhalangi untuk berjihad dengan jiwa raganya, dan dalam kondisi tertentu mungkin bagi seorang hamba dibolehkan meninggalkan amalan-amalan, tetapi tidak dibolehkan meninggalkan nasehat kepada Allah, seperti orang yang sakit yang tidak bisa menggerakkan badannya dan tidak dapat berbicara, tetapi akalnya masih sehat, maka belum hilang kewajiban nasehat kepada Allah dengan hatinya, disertai dengan penyesalan akan dosa-dosanya, dan berniat dengan sungguh-sungguh apabila sehat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepadanya, dan meninggalkan apa-apa yang Allah larang untuk mengerjakannya, kalau tidak (yaitu tidak ada amalan hati, berupa cinta, takut, dan harap kepada Allah dan niat untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan laranganNya), maka ia tidak disebut telah menasehati kepada Allah dengan hatinya. Dan termasuk nasehat kepada Allah adalah taat kepada Rasul Nya shalallahu 'alaihi wasallam dalam hal yang beliau wajibkan kepada manusia berdasarkan perintah Rabbnya, dan termasuk nasehat yang wajib kepada Allah adalah dengan membenci dan tidak ridha terhadap maksiat orang yang berbuat maksiat dan cinta kepada ketaatan orang yang taat kepada Allah dan RasulNya.

Sedangkan nasehat yang sunnah, bukan yang wajib, adalah dengan berjuang sekuat tenaga untuk lebih mengutamakan Allah dari setiap yang ia cintai dalam hati dan seluruh anggota badan sampai-sampai dari dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dari orang lain. Karena seorang penasehat apabila bersunggguh-sungguh kepada siapa yang dicintainya, dia tidak akan mementingkan dirinya, bahkan berupaya keras melakukan hal-hal yang membuat senang dan cinta siapa yang
dicintainya, maka begitu pula penasehat kepada Allah, dan barangsiapa yang melakukan ibadah nafilah untuk Allah tanpa dibarengi dengan kerja keras, maka dia adalah penasehat berdasarkan tingkatan amalnya, tetapi tidak melaksanakan nasehat dengan sebenarnya secara sempurna." [5]

Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah (wafat tahun 1163 H) berkata.

"(Nasehat) kepada Allah adalah agar seorang hamba menjadikan dirinya ikhlas kepada Tuhannya dan meyakini bahwa Dia adalah Ilah Yang Esa dalam uluhiyahNya, dan bersih dari noda syirik, tandingan, dan permisalan, serta apa-apa yang tidak pantas bagiNya.

Dan Dia itu mempunyai sifat segala kesempurnaan yang sesuai dengan keagunganNya, dan seorang muslim harus mengagungkanNya dengan sebesar-besar pengagungan, dan mengamalkan amalan zhahir dan batin yang Allah cintai dan menjauhi apa-apa yang Allah benci, dan dia cinta kepada apa-apa yang dicintai oleh Allah dan benci kepada apa-apa yang Allah benci, dan ia meyakini apa-apa yang Allah jadikan sesuatu itu benar sebagai suatu kebenaran, dan yang batil itu sebagai suatu kebatilan, dan hatinya penuh dengan cinta dan rindu kepadaNya, ia bersyukur akan nikmat-nikmatNya, dan sabar atas bencana yang menimpanya, serta ridha dengan qadlaNya."[6]

Imam Nawawi dan Ibnu Rajab rahimahumallah menyebutkan bahwa termasuk nasehat kepada Allah adalah dengan berjihad melawan orang-orang yang kufur kepadaNya dan berda'wah mengajak manusia kejalan Allah.[7]

Imam Al-Khaththabi rahimahullah berkata.

"Hakikat kata 'kepada Allah' sesungguhnya kembali kepada hamba itu sendiri dalam nasehatnya kepada diri sendiri, karena Allah Ta'ala tidak butuh akan nasehatnya penasehat."[8]


[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]
________
Foot Note.
[1]. Lihat Lisanul Arab, juz 14, bagian kata "Nashaha"
[2]. Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 1 hal. 219
[3]. Syarah Shahih Muslim, Juz 2, hal. 33
[4]. Lihat Syarah Shahih Muslim, Juz 2 hal. 33 dan Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah, oleh Ibnu Daqiq Al-'Ied hal. 32
[5]. Ta'dzimu Qadri As-Shalat, Juz 2, hal. 691-692
[6]. Dalam kitabnya Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah oleh Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah, hal. 47-48
[7]. Lihat Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 1 hal.222, dan Syarah Shahih Muslim, Juz 2 hal. 33
[8]. Lihat Syarah Shahih Muslim, Juz 2 hal. 33

source: http://www.almanhaj.or.id/content/1832/slash/0

Sabtu, 14 Agustus 2010

Nasehat Tentang Sabar


Umar Bin Khathtab Radhiyallahu ‘Anhu:
Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar.
Jika sabar itu ada pada seseorang, pasti ia tergolong orang dermawan.
Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu:
Posisi sabar bagi iman seperti posisi kepala bagi tubuh.
Ketahuilah tidak beriman orang yang tidak sabar.
Umar Bin Abdul Aziz Rahimahullah:
Allah tidak memberikan suatu kenikmatan kepada salah seorang hambanya
kemudian Dia mencabutnya dari orang tersebut dan menggantinya dengan sabar,
maka penggantinya itu lebih baik daripada yang dicabut darinya.
Al Hasan Al Bashri Rahimahullah:
Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang baik.
Allah tidak memberikan kecuali kepada hamba-Nya yang mulia di sisi-Nya.
Dinukil dari Kitab ‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratisy Syakirin
Karya Syamsudin Muhammad Bin Abu Bakar Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
Sumber: Majalah AsySyariah Vol 1/ No 3/Rabiul Akhir 1424 H/Juni 20